Pages

Jumat, 02 November 2012

Penyusunan Instrument Penilaian


A.    PENDAHULUAN

Setiap orang yang melakukan kegiatan akan selalu ingin tahu hasil dari kegiatan yang dilakukannya. Seringkali pula, orang yang melakukan kegiatan tersebut, berkeinginan mengetahui baik atau buruknya kegiatan yang dilakukannya. Siswa dan guru merupakan orang – orang yang  terlibat dalam kegiatan pembelajaran, tentu mereka juga berkeinginan mengetahui proses dan hasil kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Untuk menyediakan informasi tentang baik atau buruknya, proses dan hasil kegiatan pembelajaran, maka seorang guru harus menyelenggarakan evaluasi. Disisi lain, evaulasi merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Hal ini berarti, evaluasi merupakan kegiatan yang tak terelakkan dalam setiap kegiatan pembelajarn. Dengan kata lain kegiatan evaluasi merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. Evaluasi hasil belajar menekankan kepada diperolehnya informasi tentang seberapakah perolehan siswa dalam mencapai tujuan pengajarn yang ditetapkan, Dengan demikian evaluasi hasil belajar menetapkan baik atau buruknya hasil dari kegiatan pembelajaran. Berdasarkan pemikiran – pemikiran tampaknya pada kita akan pentingnya penyelengaraan kegiatan evaluasi. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang guru memiliki kemampuan menyelenggarakan kegiatan evaluasi. Seorang guru akan lebih menguasai kemampuan ini apabila sejak dini atau sejak sebagai calon guru sudah dikenalkan dengan kegiatan evaluasi.
Evaluasi dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah Evaluation adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan, sampai sejauh mana tujuan program telah tercapai(Gronlund, 1985). Evaluasi dapat juga diartikan sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan criteria ataua tujuan yang telah ditetapkan, yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas objekyang dievaluasi. Sebagai contoh evaluasi proyek, kriterinya adalah tujuan dari pembangunan proyek tersebut, apakah tercapai atau tidak, apakah sesuai rencana atau tidak, jika tidak mengapa terjadi demikian,dan langkah-langkah apa yang perlu ditempuh selanjutnya. Sudjono(1996) mengemukakan bahwa evaluasi pada dasarnya merupakan penafsiran atau interpretasi yang bersumber pada data kuantitatif, sedang data kuantitatif merupakan hasil dari pengukuran. Berbeda dengan evaluasi, penilaian dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah assessment berarti menilai sesuatu. Menilai itu sendiri berarti mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mengacu pada ukuran tertentu, seperti menilai baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh, tinggi atau rendah dan sebagainya.
 Dari pengertian ini, maka antara penilaian dengan evaluasi hamper sama, bedanya dalam evaluasi berakhir dengan pengambilan keputusan sedangkan penilaian hanya sebatas memberikan nilai saja. Penilaian dapat dilakukan berdasarkan hasil pengukuran atau dapat pula dipengaruhi oleh hasil pengukuran. Pengukuran dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah measurement merpakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dalam arti memberi angka terhadap sesuatu yang disebut objek pengukuran. Mengukur pada hakikatnya adlaah pemasangan atau korespondensi 1 – 1 antara angka yang diberikan dengan fakta dan diberi angka atau diukur. Menurut Cangelosi (1991), pengukuran adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Pengertian yang lebih luas mengenai pengukuran dikemukan oleh Wiersma dan Jurs (1990) bahwa pengukuran adalah penilaian numeric terhadap fakta – fakta dari objek yang hendak diukur menurut criteria atau satuan – satuan tertentu.
Berdasarkan beberapa pengertian evaluasi, penilaian dan pengukuran yang dikemukan di atas, maka jelaslah sudah bahwa evaluasi, penilaian, dan pengukuran merupakan tiga konsep yang berbeda. Namun demikian, dalam praktek terutama dalam dunia pendidikan, ketiga konsep tersebut sering dipraktekkan dalam satu rangkaian kegiatan. Sebagai contoh pelaksanaan evaluasi di sekolah maka di dalamnya terintegrasi kegiatan pengukuran dan penilaian.
Apabila kita kaji pengertian evaluasi pengukuran dan penilaian kita kaitkan dengan kegiatan belajar dan pembelajaran, maka kita akan memperoleh pengertian yang tidak jauh berbeda dengan pengertiannya secara umum. Pengertian evaluasi belajar dan pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan penilaian dan/atau pengukuran belajar dan pembelajaran. Sedangkan pengertian pengukuran dalam kegiatan belajar dan pembelajaran adalah proses adalah membandingkan tingkat keberhasilan belajar dan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan belajar dan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif.



B.    PENYUSUNAN INSTRUMEN

1.    Pengertian instrument

Secara umum yang dimaksud instrumen adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, sehingga dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu obyek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variable. Dalam bidang penelitian, instrument diartikan sebagai alat untuk mengumpulkan data mengenai variabel – variabel penelitian untuk kebutuhan penelitian, sedangkan dalam bidang pendidikan instrument digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa, factor – factor yang diduga mempunyai hubungan atau berpengaruh terhadap hasil belajar, perkembangan hasil belajar siswa, keberhasilan proses belajar mengajar guru, dan keberhasilan pencapaian suatu program tertentu.

2.    Jenis-jenis instrument

Pada dasarnya instrumen dapat dibagi dua yaitu tes dan nontes. Yang termasuk kelompok tes adalah tes prestasi belajar, tes intelegensi, tes bakat, dan tes kemampuan akademik, sedangkan yang termasuk dalam kelompok non-tes adalah skala sikap, skala penilaian, pedoman observasi, pedoman wawancara, angket, pemeriksaan dokumen dan sebagainya. Instrumen yang berbentuk tes bersifat performansi maksimum sedang instrumen non-tes bersifat performansi tipikal.

A.    Tes
1.    Pengertian
    Secara umum tes diartikan sebagai alat yang digunakan untuk mengukur pengetahuan dan penguasaan obyek ukur terhadap seperangkat konten dan materi tertentu. Menurut Sudijono (1996), tes adalah alat atau prosedur yang digunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Tes da[at juga diartikan sebagai alat pengukur yang mempunyai standar objektif, sehingga dapat sipergunakan secara meluas, serta betul – betul dapat digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu (Anastasi dan Turabian, 1997). Menurut Cronbach (1984), tes merupakan suatu prosedur yang sistematis untuk mengamati atau mendeskripsikan satu atau lebih karakteristik seseorang dengan menggunakan standar numeric atau sistem kategori.
Menurut Bruce (1978), tes dapat digunakan untuk mengukur banyaknya pengetahuan yang dieroleh individu dari suatu bahan pelajaran yang terbatas pada tingkat tertentu. Oleh karena itu, tes merupakan alat ukur yang banyak digunakan dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan umumnya orang masih memandang bahwa indikator keberhasilan seseorang mengikuti pendidikan adalah dilihat dari seberapa banyak orang menguasai materi yang telah dipelajarinya dalam suatu jenjang pendidikan tertentu.
Norman (1976) mengemukakan bahwa tes merupakan salah satu prosedur evaluasi yang komprehensif, sistematik, dan obyektif yang hasilnya dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dalam proses pengajaran yang dilakukan oleh guru. Dari beberapa pengertian tes di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tes memiliki peranan yang sangat penting dalam dunia pendidikan.

2.    Fungsi
Secara umum ada beberapa fungsi tes dalam dunia pendidikan. Pertama, tes dapat berfungsi sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar siswa. Sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar siswa tes dimaksudkan untuk mengukur tingkat perkembangan atau kemajauan yang telah dicapai siswa setelah menempuh proses belajar – mengajar dalam jangka waktu tertentu.
Kedua, tes dapat berfungsi sebagai motivator dalam pembelajaran. Hampir semua ahli teori pembelajaran menekankan pentingnya umpan balik yang berupa nilai untuk meningkatkan intensitas kegiatan belajar.
Ketiga, tes dapat berfungsi untuk upaya perbaikan kualitas pembelajaran. Dalam rangka perbaikan kualitas pembelajaran ada tiga jenis tes yang perlu dibahas, yaitu tes penempatan, tes diagnostic, dan tes formatif. Tes yang dilaksanakan untuk keperluan penempatan bertujuan agar setiap siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas atau pada jenjang pendidikan tertentu dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara efektif, karena sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing – masing.
Keempat, tes yang dimaksudkan untuk menentukan berhasil atau tidaknya siswa sebagai syarat untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Untuk keperluan ini dikenal istilah tes sumatif.

3.    Penggolongan


4.    Penyusunan tes sebagai alat evaluasi
    Penyusunan dan pengembangan tes dimaksudkan untuk memperoleh tes yang valid, sehingga hasil ukurnya dapat mencerminkan secara tepat hasil belajar atau prestasi belajar yang dicapai oleh masing – masing individu peserta tes setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran.
    Adapan langkah- langkah menyusun tes adalah
a.    Menetapkan tujuan tes
b.    Analisis kurikulum
c.    Analisis buku pelajaran
d.    Membuat kisi-kisi
e.    Penulisan tujuan instuksional khusus
f.    Penulisan soal
g.    Uji soal tes
h.    Analisis hasil uji coba
i.    Revisi soal
j.    Merakit soal menjadi tes
k.    Pengayaan dan remedial
5.    Penyusunan tes sebagai alat evaluasi di  MTs. Raudhatul Ulum Sakatiga Inderalaya Ogan Ilir
    Adapun langkah- langkah menyusun tes adalah
a.    Menetapkan Tujuan Tes
        Tes ini dibuat dengan tujuan untuk ujian tengah semester (UTS) Genap dikelas VIIIF MTs Raudhatul Ulum Sakatiga Inderalaya Ogan Ilir.
b.    Analisis Kurikulum
        Landasan penyusunan tes ini adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006 berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI).
        Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang digunakan dalam penyusunan tes ini adalah sebagai berikut:
Standar Kompetensi    Kompetensi Dasar
4.Menentukan unsur, bagian lingkaran serta ukurannya.    4.1 Menentukan unsure dan bagian-bagian lingkaran.
4.2 Menghitung keliling dan Luas lingkaran.
4.3 Menggunakan hubungan sudut pusat, panjang busur, luas juring dalam pemecahan masalah.

c.    Analisis buku pelajaran
        Buku yang digunakan sebagai referensi penyusunan tes ini adalah buku sekolah elektronik (BSE) yaitu
1.    Contextual Teaching and Learning Matematika untuk SMP kelas VIII, karangan Endah Budi Raharjo, dkk.
2.    Mudah belajar Matematika untuk Kelas VIII SMP/MTs, karangan Nuniek Avianti Agus.
3.    Matematika Konsep dan Aplikasi untuk kelas VIII SMP/MTS, karangan Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni.

d.    Membuat kisi-kisi
        Kisi-kisi adalah suatu format atau matriks yang memuat informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk menulis tes atau merakit tes, sesuai dengan tujuan dan fungsi tes tersebut. Kisi soal yang kami buat untuk diujikan di MTs Raudhotul Ulum dapat dilihat di lampiran 1.

e.    Penulisan tujuan instruksional khusus
        Tujuan instruksional yang dimaksud sama dengan indikator soal. Hal ini sudah termaktub di dalam kisi-kisi yang telah dibuat diawal.

f.       Penulisan soal
1.Kartu Soal
        Kartu soal adalah suatu format yang memuat informasi tentang soal yang akan dibuat, termasuk kunci jawaban soal tersebut. Kartu soal yang kami buat untuk diujikan di MTs Raudhotul Ulum dapat dilihat di lampiran 2.

2.Lembar Soal yang akan diujikan
        Kartu soal yang telah dibuat kemudian dirakit dalam lembar soal yang siap untuk diujikan kepada siswa. Redaksi soal yang siap diujikan di MTs Raudhotul Ulum dapat dilihat di lampiran 3.

3.Lembar jawaban untuk siswa
    Dalam menjawab soal, tentunya dibutuhkan ruang yang cukup untuk mengerjakannya. Oleh karena itu kami juga menyediakan lembar jawaban untk soal yang akan kami ujikan tersebut. Lembar jawaban ini juga dapat dilihat di lampiran 3.

g.    Uji soal tes
        Soal tes yang dibuat ini diujikan di kelas VIIIF MTs Raudhotul Ulum Sakatiga Inderalaya Ogan Ilir.

h.    Analisis hasil uji coba
        Analisis hasil uji coba ini merupakan hasil analisis terhadap jawaban siswa terhadap soal yang diujikan. Analisis ini dapat juga dilihat dalam lampiran 4.

i.       Revisi soal
        Hasil analisis ini kemudian dijadikan dasar dalam merevisi soal yang telah diujikan tersebut, sehingga dihasilkan soal yang valid dan reliable secara konstruk dan isi.
       
j.       Pengayaan dan remedial
        Selain sebagai landasan untuk merevisi soal, hasil analisis juga digunakan untuk menentukan tindak lanjut setelah pelaksanaan tes. Siswa yang memperoleh nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), berhak untuk mengikuti pengayaan. Sedangkan untuk siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM, harus mengikuti remedial. Remedial dan Pengayaan yang kami susun di sini semuany berbentuk soal. Untuk soal-soal remedial, isinya fokus pada kompetensi dasar yang belum tuntas. Sedangkan untuk pengayaan, soal-soalnya cenderung memiliki tingkat kognitif yang lebih tinggi dibandingkan soal sebelumnya. Soal-soal pengayaan dan remedial dapat dilihat di lampiran 5.


B.    Non Tes
1.    Observasi pelaksanaan Speed Test pada saat Lomba Cerdas Cermat Matematika (LCCM) Tingkat SMP/SMA
Speed Test merupakan salah satu dari jenis tes yang ditinjau dari waktu yang disediakan bagi peserta tes. Dalam speed test, wakrtu yang disediakan bagi peserta tes sangat terbatas sehingga peserta tesnperlu memacu otak secara ekstra untuk dapat menjawab dan menyelesaiakan butir-butir tes. Pelaksanaan speed test yang menjadi objek observasi kami adalah Lomba Cerdas Cerdas Matematika (LCCM) Tingkat SMP/SMA ynag dilaksanakan oleh Himpunan mahasiswa Matematika FKIP Unsri. Laporan lengkap tentang Speed Test dapat dilihat pada lampiran 6.   


C.    KECAKAPAN AKADEMIK SISWA
1.    Definisi Konseptual menurut Depdiknas 2003    
Kecakapan akademik siswa adalah keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika.
2.    Definisi Operasional
Kemampuan siswa dalam mengidentifikasi variabel, menghubungkan variabel, merumuskan variabel dan melaksanakan penelitian/penyelidikan yang dapat dilihat dari data hasil observasi.
3.    Hubungan dengan Kecakapan Hidup

4.    Definisi Operasional Variabel
Kecakapan akademik siswa dalam adalah kemampuan siswa dalam mengidentifikasi variabel, menghubungkan variabel, merumuskan variabel dan melaksanakan penyelidikan yang dapat dilihat dari data hasil observasi.
5.    Indikator
Indikator –indikator yang digunakan untuk melihat kemampuan akademik sisw adalah
    Mengidentifikasikan variabel
    Menghubungkan variabel
    Merumuskan hipotesis
    Melaksanakan  penelitian/penyelidikan

a.    Mengidentifikasikan variabel
Mengidentifikasi variabel adalah kemampuan siswa dalam menentukan variabel yang ada dari suatu permasalahan. Hal ini ditunjukan dengan cara:
    menentukan variabel yang terdapat pada suatu permasalahan matematika
    menyatakannya kedalam simbol-simbol matematika
b.    Menghubungkan variabel
Menghubungkan variabel adalah kemampuan siswa untuk menentukan hubungan antara variabel-variabel. Indikator ini ditunjukan melalui:
    menentukan rumus matematika yang sesuai
    menggunakannya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut
c.    Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah dugaan yang dianggap benar mengenai adanya suatu faktor yang terdapat dalam satu situasi. Hal ini ditunjukan dengan
    memprediksi suatu solusi
    menjelaskan hasil prediksi 
d.    Melaksanakan  penelitian/penyelidikan
Indikator ini bertujuan agar siswa menemukan suatu prinsip matematika dan solusi. Hal ini ditunjukan dengan
    siswa melakukan kegiatan sesuai prosedur
    siswa menyimpulkan solusi akhir
6.    Deskriptor
a.    Mengidentifikasikan variabel
    Menuliskan unsur-unsur yang diketahui
    Menuliskan unsur-unsur yang ditanyakan
    Mencari unsur-unsur yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah
b.    Menghubungkan variabel
    Membuat model untuk memudahkan penyelesaian
    Membuat hubungan antar unsur yang diketahui dengan model yang dibuat
    Menuliskan rumus yang digunakan untuk menyelesaikan masalah
c.    Merumuskan hipotesis
    Memprediksi teknik yang digunakan untuk menyelesaikan masalah
    Memprediksi penyelesaian masalah
    Menjelaskan prediksi yang diperoleh
d.    Melaksanakan  penelitian/penyelidikan
    Mengerjakan tugas yang diberikan
    Melaksanakan tugas sesuai prosedur
    Membuat kesimpulan
7.    Teknik Penskoran
a.    Skor 4 jika tampak 3 deskriptor
b.    Skor 3 jika tampak 2 deskriptor
c.    Skor 2 jika tampak 1 deskriptor
d.    Skor 1 jika tidak ada satupun deskriptor yang tampak
8.    Analisis Hasil
Nilai Akhir = (Total Skor yang diperoleh : Skor Maksimum) x 100
Tingkat Kecakapan Akademik Siswa dalam Pembelajaran Matematika
Skor Akhir
    Kategori Tingkat Kecakapan Akademik Siswa

86-100    Sangat baik
71-85    Baik
56-70    Cukup
41-57    Kurang
0-40    Sangat kurang

9.    Observasi Kecakapan Akademik Siswa
Untuk pelaksanaan observasi, kami menguji siswa di bimbingan belajar Budiwijaya Palembang untuk melihat kemampuan kecakapan akademiknya. Adapun objek observasi adalah siswa kelas 8 yang terdiri dari 20 siswa berasal dari sekolah-sekolah yang berbeda. Dari 20 siswa tersebut dibagi menjadi 5 kelompok. Adapun hasilnya dapat dilihat pada lampiran 7.

D.    PENILAIAN KELAS
a.    Pengertian Penilaian
Penilaian adalah poses sisematis meliputi pengumpulan dan penggunaan informasi ( angka, deskripsi verbal), analisis, dan interpretasi informasi untuk mengambil keputusan. Pengertian Penilaian Kelas
    Penilaian  kelas adalah poses pengumpulan dan penggunaan informasiaoleh guru melalui sejumlah bukti untuk membuat keputusan tentang pencapauian hasil belajar atau kompetensi siswa.
b.    Ciri Penilaian Kelas
1.    Mastery Learning ( Belajar Tuntas)
Belajar tuntas (mastery learning), artinya peserta didik tidak diperkenankan untuk mengerjakan pekerjaan berikutnya sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar, dan hasilny baik.
2.    Penilaian Otentik
Penilaian otentik merupakan penilaian secara menyeluruh, memandang penilaian dan pembelajaran secara terpadu sehingga dalam penilaiannya menggunakan berbagai cara dan media. Salah sifat utama penilaian otentik adalah holistic, yaitu kompetensi yang diukur bersifat utuh meliputi aspek kognitif, afeektif dan psikomotorik. Salah satu contoh penilaian otentik yang kami buat disini dapat dilihat pada lampiran 8.
       
3.    Berkesinambungan
Penilaian kelas merupakan proses yang berkelanjutan, artinya memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk ulanagn harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.

4.    Berdasarkan Acuan Patokan
Prestasi kemampuan peserta didik TIDAK DIBANDINGKAN dengan peserta kelompok, tetapi dengan kemampuan yang dimiliki sebelumnya dan patokan yang ditetapkan

5.    Menggunakan Berbagai Cara dan Alat Penilaian
Dalam penilaian kelas, mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi. Penilaian yang digunakan bervariasi: Tertulis, Lisan, Produk, Portofolio, Unjuk Kerja, Proyek, Pengamatan, dan Penilaian Diri.

       
a.    Penugasan (proyek/Project)
Penilaian penugasan atau proyek adalah penilaian terhadap suatu tugas yang mengandung penyelidikan yang harus selesai dalam waktu tertentu.
Penilaian penugasan atau proyek bermanfaat menilai :
•    Keterampilan menyelidiki secara umum
•    Pemahaman & Pengetahuan dalam bidang tertentu
•    Kemampuan mengaplikasi pengetahuan dalam suatu penyelidikan
•    Kemampuan menginformasikan subyek secara jelas
Salah satu bentuk penugasan(proyek) yang kami buat dapat dilihat di lampiran 8.

b.    Portofolio
    Portofolio adalah penilaian melalui koleksi karya (hasil kerja) siswa yang  sistematis. Karakteristik penilaian portofolio adalah:
•    Pengumpulan dan penilaian yang terus menerus
•    Pengumpulan data melalui karya siswa
•    Refleksi perkembangan berbagai kompetensi
•    Memperlihatkan tingkat perkembangan kemajuan belajar siswa
•    Bagian Integral dari Proses Pembelajaran
•    Untuk satu periode
•    Tujuan Diagnostik
Salah satu bentuk portofolio yang kami buat juga dapat dilihat di lampiran 8.

c.    Autentic Assessment
    Penilaian otentik (autentic assessment) merupakan penilaian secara menyeluruh, memandang penilaian dan pembelajaran secara terpadu sehingga dalam penilaiannya menggunakan berbagai cara dan media. Salah sifat utama penilaian otentik adalah holistic, yaitu kompetensi yang diukur bersifat utuh meliputi aspek kognitif, afeektif dan psikomotorik. Salah satu contoh penilaian otentik yang kami buat disini dapat dilihat pada lampiran 8.

d.    Problem Solving
    Pemecahan masalah (problem solving) adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menggunakan soal-soal  yang memiliki tingkat kognitif tinggi. Soal yang diujikan umumnya bersifat tidak rutin dan membutuhkan langkah-langkah sistematis dalam penyelesaiannya. Contoh soal-soal pemecahan masalah (problem solving) yang kami buat disini dapat dilihat pada lampiran 8.

e.    Open Ended
Soal yang memiliki formulasi multijawaban atau multiproses yang  benar. Menurut Nohda (2000) dalam Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, Tujuan Pemberian Soal Open Ended adalah untuk membantu mengembangkan kegiatan berpikir kreatif dan pola pikir matematis siswa.

Kriteria Soal Open Ended
1.    Kegiatan siswa harus terbuka
2.    Kegiatan siswa harus merupakan ragam berfikir
3.    Problem yang disajikan harus menarik
4.    Berikan waktu yang cukup agar siswa mengkonstruksi problem
    Dalam makalah ini, kami juga menyusun soal-saol open ended yang dapat dilihat pada lampiran 8.
f.    PISA and TIMSS
Ajang PISA (Programme for International Student Assessment)  telah memilih untuk mendeskripsikan penilaian kognitif  pada matematika tingkat dunia (internasional) dimana kompetensi/ kemampuan dasar yang ditekankan adalah
1.The reproduction Cluster (membangun kembali pengetahuan),dengan komponen:
•    Standard representations and definitions
•    Routin Computations
•    Routin procedure
•    Routin problem solving
2.The connection Cluster (kemampuan menghubungkan), dengan komponen:
•    Modeling
•    Standard problem solving transaltion and interpretation
•    Multiple well-defined method

3.The reflection cluster (kemampuan refleksi pengetahuan), dengan komponen:
•    Complex problem solving and posing
•    Reflections and insight
•    Original mathematics approach
•    Multiple complex method
•    Generalitations
Setiap komponen dari kompetensi yang ditekankan  adalah:
1.    Thinking and reasoning (bagaimana cara berpikir dan bernalar dari peserta tes)
2.    Argumentation(bagaimana cara argument dari peserta)
3.    Communication (bagaimana bentuk mengkomunikasikan gagasan dalam tulisan)
4.    Modeling (bagaimana membuat model)
5.    Problem solving and posing (bagaimana strategi pemecahan masalah dan pengajuannya)
6.    Representation (bagaimana melakukan representasi atau perwakilan variabel)
7.    Using symbol,formal and technical language and operation (menggunakan symbol ,teknik dan operasi menjawab secara formal)
Contoh soal PISA dan analisisnya dapat dilihat pada lampiran 8.
        IEA (The International Association for the Evaluation of Educational Achievement) adalah organisasi yang bergerak di bidang penilaian dan pengukuran pendidikan yang berkedudukan di negeri Belanda. Pada tahun 1964, IEA melakukan studi pelajaran Matematika yang diikuti oleh 12 negara dikenal sebagai the First International Mathematics Study (FIMS). Antara tahun 1968 sampai 1975 dilakukan studi IPA yang pertama, yaitu the First International Science Study (FISS) yang diikuti oleh 22 negara.
Pada tahun 1980 IEA menyelenggarakan studi Matematika yang kedua yaitu the Second International Mathematics Study (SIMS) yang diikuti oleh 20 negara. Pada tahun 1983-1984 IEA menyelenggarakan studi IPA kedua, the Second International Science Study (SISS) yang diikuti oleh 24 negara. Tahun 1994-1995 IEA menyelanggarakan studi matematika dan IPA secara bersamaan yang dinamakan the Third International Mathematics and Science Study (TIMSS).
TIMSS diulang pada tahun 1999 dan Indonesia menjadi salah satu peserta dari 38 negara mulai dari negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang sampai negara berkembang seperti Indonesia, Tunisia, dan Filipina ikut berpartisipasi dalam studi yang selanjutnya dinamakan TIMSS-R 1999.Pada tahun 2003, studi dilanjutkan dan dikenal de ngan nama TIMSS 2003 (Trends in International Mathematics and Science Study 2003). Jumlah negara peserta semakin bertambah dan Indonesia kembali berpartisipasi.Dalam melakukan studi ini setiap Negara peserta harus mengikuti prosedur baku yang ditetapkan oleh IEA yang meliputi antara lain penggunaan tes dan angket yang sama, penentuan sampel, dan pengolahan data.Pengembangan tes dan angket dipusatkan di Boston, USA; penentuan sampel ditetapkan di Ottawa, Kanada; dan pemrosesan data dilakukan di Hamburg, Jerman.
TIMSS 2003 dirancang untuk meneliti trend pe ngetahuan dan kemampuan Matematika dan IPA anak-anak usia 13 tahun beserta informasi lainnya yang berasal dari siswa, guru, dan kepala sekolah. Salah satu tujuan keikutsertaan Indonesia di dalam studi ini adalah untuk mendapatkan informasi me ngenai kemampuan siswa-siswa di Indonesia di bidang Matematika dan IPA dibandingkan dengan negara-negara lainnya di dunia.Hasil studi ini diharapkan dapat digunakan dalam perumusan kebijakan untuk peningkatan mutu pendidikan Matematika dan IPA.Untuk soal pada ajang TIMSS dapat dilihat pada lampiran 8.   

   

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About